Catatan :

Kamis, 29 Maret 2018

Gaet Siswa Baru, Lembaga Pendidikan NU Pacitan Gencar Promosi

Pacitan, MH Online
Sekolah sekolah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Pacitan Jawa Timur gencar melakukan berbagai kegiatan dengan tujuan untuk memperoleh siswa baru untuk tahun ajaran 2018/2019.

Diantara lembaga pendidikan NU yakni Sekolah Dasar Nuril Islam (SD Nuris) Pacitan yang berdiri sejak tahun 2015 menggelar berbagai macam kegiatan untuk menggaet peserta didik baru. sebagaimana yang dilakukan pada Kamis (29/3), menggelar bazar buku dan pentas seni anak. 

Kegiatannya meliputi, lomba fashion show busana muslim tingkat TK sederajat se-kecamatan Pacitan dan Kecamatan Arjosari, lomba mewarnai, dan lomba memasak nasi tiwul antar wali murid dan kegiatan akan berlangsung hingga Sabtu (31/3) di halaman SD setempat.

"Pentas seni ini merupakan agenda tahunan, dan ini adalah tahun keempat kami melaksanakannya. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk lebih mengenalkan SD Nuris kepada masyarakat," terang Noka Dewi Ariyanti, salah seorang Guru SD Nuris

Istighosah dan Doa Bersama SMP/SMK Miftahul Huda Menuju Suksesnya UNBK 2018


Ngadirojo, MH Online
Jelang pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 para pelajar Kelas IX/XII SMP/SMK Miftahul Huda menggelar Istighosah dan Doa Bersama di halaman Miftahul Huda Jln. Cucak Rowo No.25 Wiyoro Ngadirojo Kamis 29 Maret 2018. Hal itu dilakukan agar siswa siswi mendapat kemudahan dalam melaksanakan UNBK 2018 .(29/03/2018)

Acara Istighosah dan Doa Bersama dipimpin oleh Gus Zaki Alwan diikuti Kepala Sekolah SMP/SMK Miftahul Huda, dewan guru dan siswa-siswi serta orang tuanya.

Segala persiapan mulai dari jasmani maupun rohani dari siswa-siswi seperti Istighosah dan Doa Bersama  serta yang paling Tradisi di Miftahul Huda adalah berkunjung/silaturahmi ke kediaman Guru Guru dan Ulama untuk minta doa dan restu kepada beliau.

Doa merupakan wujud permohonan kepada Allah SWT untuk meminta bantuan dan perlindungan, sebab manusia diciptakan oleh-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Inilah alasan kenapa kita mengajak seluruh siswa-siswi untuk berdoa, tidak lain demi kemudahan dan kelancaran menghadapi semua ujian baik itu ujian sekolah maupun ujian nasional

Rabu, 28 Maret 2018

Pemerintah Saja Tidak Cukup, NU Harus Genjot Kesadaran Teknologi

Jakarta, NU Online
Teknologi berkembang begitu pesat. Satu perubahan ke perubahan lagi tidak berjarak begitu lama. Menurut Praktisi Teknologi Elwin Andririanto, negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) sudah menemukan sumber daya lain di bumi ini. Misalnya mereka menemukan emas yang jumlahnya 80 ribu kali lebih banyak dari yang ada di bumi. Emas tersebut berada di sebuah asteroid.

Jerman, lanjutnya pada kegiatan Ngaji Teknologi di Perpustakaan PBNU, Gedung PBNU lantai 2, Jakarta, pada Rabu (28/3), sudah berhasil membuat matahari buatan di bumi. Bangsa Jerman heboh dengan fusi yang menghasilkan matahari tersebut.

Tak berhenti di situ, alumni Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya itu juga mengungkapkan bahwa teknologi saat ini sudah mampu membuat jantung yang dibuat sedemikian rupa dan dicetak dengan mesin pencetak tiga dimensi. Itu berhasil hidup.

Faedah Istiqamah Berdzikir La Ilaha illallah Muhammad Rasulullah

Dzikir Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh sering kita dengar lantunannya. Dzikir ini terdiri dari 2 pernyataan. Yang pertama adalah mengesakan Allah, yakni tiada yang memiliki sifat ulûhiyah atau ketuhanan kecuali Allah, dan yang kedua adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Sudah lazim bahwa tiap-tiap dzikir memiliki faedah. Ya, meski itu bukanlah tujuan utama dari dzikir. Tujuan utamanya adalah mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata’ala. Lantas, apakah faedah dari dzikiran ini?

Disebutkan dalam kitab Syarah Ummul Barâhîn karya Imam Abdullah Muhammad bin Yusuf as-Sanusy al-Asy’ary (Jakarta, Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2013, halaman 72), keutamaan-keutamaan mengistiqamahkan dzikiran ini. Faedah tersebut terbagi menjadi dua, pertama kembali kepada budi pekerti yang baik dalam agama, yang kedua kembali kepada karamah.

Kiai Maschan Moesa Minta Generasi Muda NU Tampil sebagai Dai Milenial

Surabaya, NU Online
Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Timur menggelar haul pertama Almarhum KH Hasyim Muzadi di Ruangan Kertoraharjo Gedung PWNU Jawa Timur, Selasa (27/3). 

KH Hasyim Muzadi dikenal sebagai kiai humoris dan piawai dalam berdakwah. "Yang paling sulit kita tiru adalah setiap memulai ceramah Kiai Hasyim selalu membaca ayat terlebih dahulu," kata KH Ali Maschan Moesa, Wakil Rais PWNU Jatim.

Kiai Ali Maschan mengatakan, Kiai Hasyim kalau ceramah selalu runtut, bagi Kiai Hasyim berceramah untuk NU itu mutlak, yang sulit akan menjadi mudah. Saat ini sudah banyak para dai yang pintar mengambil hati masyarakat, namun di NU masih belum muncul.

"Sudah seharusnya generasi IPNU-IPPNU mengambil peran ini, karena mereka ini termasuk generasi milenial. Generasi NU harus belajar kepada Kiai Hasyim dalam berceramah," kata Mantan Ketua PWNU Jatim ini.

Selasa, 27 Maret 2018

Kiai Said: Nabi Miliki Nasionalisme yang Tinggi

Blitar, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyatakan 15 abad yang lalu Nabi Muhammad SAW sukses membangun umat yang tidak berdasarkan agama dan suku. Nabi berhasil membangun Kota Yastrib atau Madinah atas dasar pluralisme dan tanpa memandang adanya perbedaan.

”Nabi Muhammad SAW berhasil menyatukan manusia tanpa melihat suku, agama dan bangsa," ujar Kiai Said dihadapan ribuan warga nahdliyin di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar Jawa Timur, Selasa (27/3).

Menurut Kiai Said, Nabi Muhammad juga memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Karena meskipun sudah delapan tahun tinggal di Yastrib, dia ingin kembali ke Makah. Pada waktu kembali ke Makah, Rasulullah membawa belasan ribu tentara.

“Hal tersebut sempat membuat musuh Islam mengira prajurit muslim akan balas dendam. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Rasulullah tidak mengizinkan prajuritnya melakukan dendam dengan kerendahan hati dan indahnya akhlak,” jelasnya.

Senin, 26 Maret 2018

Saat Kiai Bambu Runcing Menangis

KH Subchi Parakan. (Istimewa)
Perjuangan melawan dan mengusir penjajah bagi bangsa Indonesia tidak cukup hanya bermodalkan kekuatan fisik dan senjata, tetapi juga kekuatan batin. Kekuatan ini diperoleh dari orang-orang sholeh yang mempunyai amalan khusus yang mampu membangkitkan semangat berjuang.

Salah satu tujuan ratusan bahkan ribuan tentara Hizbullah, Sabilillah, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) ialah Kiai Haji Subchi Parakan. Kiai yang berumur 90 tahun pada 1945 itu ikut berjasa dalam memberikan kekuatan batin kepada para pejuang dengan cara memberikan amalan dan doa yang disepuhkan pada bambu runcing, senjata para pejuang saat itu dalam mengusir tentara sekutu di Semarang, Ambarawa, Surabaya, dan daerah-daerah lainnya.

Dengan senang hati, Kiai Subchi menyepuh satu per satu bambu runcing dari ribuan tentara yang saat itu sengaja datang ke Parakan untuk keperluan memperoleh kekuatan batin itu. Namun di sisi lain, hati Kiai Subchi menyimpan kesedihan mendalam karena semakin hari, tentara tak ada habisnya mendatangi kediamannya. Ia merasa banyak kiai lain di sejumlah daerah di Indonesia yang tentu lebih mampu dan sholeh dibanding dirinya.