Catatan :
Tampilkan postingan dengan label Lain lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain lain. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Innalillahi, Nyai Aisyah Hamid Baidlowi Ketum PP Muslimat NU 1995-2000 Wafat

Jakarta, NU Online
Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU periode 1995-2000 Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada Kamis, (8/3) di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un Ibu Aisyah Hamid Baidowi meninggal dunia. Semoga beliau husnul khotimah. Alfatihah... Meninggal hari ini pukul 12.50,” terang Nely Wahid, menantu almarhumah, Kamis (8/3) di Jakarta.

Sebelumnya, kepada para pengurus Muslimat NU, Nely Wahid mengutarakan, jika ada kesalahan dari almarhumah, baik yang disengaja maupun tidak agar dimaafkan secara ikhlas.

“Bunda-bunda Muslimat NU, saya mewakili Mama Aisyah mohon keikhlasan maaf apabila Mama ada membuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Semoga Mama Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim husnul khotimah,” tutur Nely Wahid.

Jenazah sementara akan disemayamkan di Rumah Duka Jalan Bukit Pratama Raya A.9 Pasar Jumat, Lebak Bulus. Adapun jenazah akan dimakamkan di Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Rabu, 07 Maret 2018

Rektor UIN Malang: Dakwah di Internet Harus Disertai Etika

Jakarta, NU Online
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, H Abdul Haris mengemukakan pentingnya etika dalam berdakwah melalui internet, termasuk media sosial. Menurutnya, etika dakwah melalui digital adalah masalah yang krusial karena banyak mengandung unsur hoaks.

"Itu hampir dalam setiap detik ada (hoaks)," katanya pada acara Diskusi Live Streaming dengan tema "Peta Gerakan Jalan Dakwah di Era Digital" di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (7/3).

Menurut pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur itu, etika di era informasi menjadi sesuatu yang baru dan penting, terlebih bagi pengguna internet.

"Ini penting karena internet yang digunakan orang Indonesia yang mencapai 88,1 juta itu sekian persen mengandung hoaks dan itu terkait dengan etika," jelasnya.

Berdasarkan pengamatannya, alumni Pesantren Tebuireng, Jombang itu menyayangkan karena dakwah yang dilakukan melalui internet justru sebagian besar membuat isu fitnah antarumat Islam sendiri. 

"Korbannya sebagian adalah tokoh-tokoh agama karena agama digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat politis," katanya.

Hoaks Mudah Menyebar, Ini Penjelasan Savic Ali

Syafiq Ali (Kanan)
Jakarta, NU Online
Praktisi Media Muhammad Syafiq Alielha mengatakan saat ini penyebaran hoaks sangat mudah terjadi diantaranya melalui situs berita yang dibuat abal-abal. Portal abal-abal cenderung lebih banyak dibaca dibandingkan media resmi.

“Orang pada dasarnya membaca apa pun tanpa peduli sumbernya dari mana. Portal abal-abal ini kalau ditulis dengan meyakinkan bisa bombastis,” kata Savic Ali, panggilan akrabnya, pada Diskusi Memperkuat Media Mainstream dalam Melakukan Kontranarasi, Rabu (7/3) di Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Orang, lanjut Savic, saat membaca informasi tidak peduli narasumbernya siapa. Kalau di hadist tidak peduli perawinya siapa, seperti percaya pada hadist palsu. Hal itu karena peta sosial politik sedang terpolarisasi oleh adanya pertarungan politik. 

“Adanya peta politik tidak mampu membuat orang berpikir lebih jernih,” kata pria yang juga Direktur NU Online.

Beralihnya orang lebih membaca portal abal-abal juga karena kredibiltas media resmi yang menurun. 

“Bisa karena akurasinya yang kurang,” terang Savic. 

Selain itu adanya partisan (pengikut partai politik) menyebabkan pertarungan politik yang tinggi sehingga menyebabkan mereka mengambil posisi.

Eyang Yahuda Lorok Pacitan, Siapakah Beliau?

Ngadirojo-Pacitan, NU Online
Pacitan memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Berdirinya Pacitan yang kini menginjak usia 273 tahun tidak dapat lepas dari tokoh-tokoh penting sebagai peletak dasar peradaban di Pacitan.

Selain dikenal kaya akan sejarah budayanya, Pacitan dikenal pula dengan warisan religiusnya. Salah satu peninggalan religiusnya adalah adanya makam orang-orang terpilih, seperti Kanjeng Jimat, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Petung, hingga Eyang Yahuda.

Banyak makam orang-orang terpilih yang telah berjasa bagi keberlangsungan peradaban Pacitan, namun kurang dikenal atau bahkan tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada yang memelihara atau menziarahinya.

Untung saja, di Pacitan masih banyak masyarakat yang sadar akan peninggalan leluhurnya. Hingga mereka terus menjaga dan merawatnya, salah satu makam tokoh Pacitan yang masih terjaga dengan baik adalah makam Eyang Yahuda, seorang ulama penyebar Islam di Pacitan.

Eyang Yahuda, para ulama menyebutnya dengan nama Syech Abdurrahman. Belum diketahui pasti, beliau berasal dari daerah mana. Namun yang jelas, beliau memilih daerah Lorok sebagai tempatnya berdakwah menyebarkan agama Islam. Hingga dikenal dengan sebutan Eyang Yahuda Lorok.

Selasa, 06 Maret 2018

Pagar Nusa Gagas Buku Bermedsos dengan Sehat

Jakarta, NU Online
Tahun 2018 dan 2019 merupakan tahun politik. Era Cyber War akan segera dihadapi. Maka, Pengurus Pusat (PP) Pagar Nusa menggelar sebuah diskusi bertajuk Politik dan Cyber Menuju Medsosul Karimah.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Pagar Nusa M Nabil Haroen pada istighosah rutin dan diskusi di Masjid An-Nahdlah Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jl Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (6/3) malam.

"Acara ini merupakan rutinitas setiap Selasa Kliwon. Malam hari ini adalah istighosah dengan peserta terbanyak karena dihadiri para ulama, sehingga animo masyarakat cukup tinggi. Banyaknya peserta akan terus ditingkatkan karena istighosah memerlukan hati yang ikhlas," kata Gus Nabil, begitu ia akrab disapa.

Dari tema diskusi itu, Gus Nabil mengungkapkan bahwa ia bersama Pagar Nusa sedang menyusun sebuah buku untuk bermedsos secara sehat dan mulia.

"Hari ini, merupakan bagian dari pencarian ilmu, sehingga buku itu nantinya akan padat berisi dengan keilmuan," ungkapnya.

Cadar, Syariat Islam atau Budaya Arab? Ini Penjelasan Kiai Ishom

Jakarta, NU Online
Polemik pemakaian cadar oleh mahasiswi di perguruan tinggi kembali mencuat setelah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berupaya melakukan pembinaan kepada para mahasiswi bercadar.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi menandatangani Surat Edaran Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 perihal Pembinaan Mahasiswi Bercadar.

Surat edaran itu ditujukan kepada Dekan Fakultas, Direktur Pascasarjana, dan Kepala Unit atau Lembaga pada 20 Februari 2018.

Mereka diminta untuk mendata dan membina mahasiswi bercadar dan data diberikan kepada Wakil Rektor III paling lambat 28 Februari 2018.

Namun, mengenai cadar itu sendiri, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, cadar bukan tradisi umat Islam Indonesia.

Kiai muda kelahiran Lampung ini tidak memungkiri, cadar termasuk persoalan fiqih dan penafsiran yang di dalamnya para ulama bisa berbeda pendapat.

Senin, 05 Maret 2018

Menikah Sarana Membentengi Diri

Lumajang, NU Online
Dalam setiap acara akad nikah, calon mempelai pria menyampaikan kata qabiltu sebagai tanda setuju dan menerima atas permintaan mahar dari calon istri. Hal tersebut terlihat ringan dan sederhana, namun memiliki bobot yang demikian berat dan agung. 

“Karena di balik kata qabiltu atau kalimat saya terima nikah dan seterusnya ada hal yang sangat agung yakni tanggung jawab,” kata KH Hasyim, Ahad (4/3). Penekanan tersebut disampaikan saat memberikan mauidhah nikah salah seorang warga di Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Terkait tanggung jawab, Kiai Hasyim mengingatkan sebuah Hadits yang menandaskan agar setiap suami untuk berbuat baik kepada istrinya. “Sebab, mereka itu bagaikan tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista,” katanya di hadapan hadirin.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengemukakan bahwa perintah nikah sebagai syariat Allah. “Siapa yang mampu tapi ternyata tidak segera menikah, maka tidak diakui sebagai umat Nabi,” jelasnya.

Peringati Harlah, Pelajar NU Sudimoro Gelar Porsipnu

Sudimoro-Pacitan, NU Online
Semarak Hari Lahir ke-64 IPPNU dan ke-63 IPPNU diperingati dengan meriah oleh para pelajar NU di berbagai daerah di Indonesia. Di Pacitan, Jawa Timur, Pengurus Anak Cabang IPNU-IPPNU Sudimoro menggelar Pekan olahraga dan seni pelajar NU (Porsipnu) sejak tanggal 25 Februari hingga 4 Maret 2018.

Ketua pelaksana, Maisyur Asyari mengatakan, Porsipnu kali diisi dengan berbagai jenis perlombaan seperti, lomba futsal antar sekolah, bola voli, tari Hadrah, paduan suara, karaoke religi, dan qira'at.

"Alhamdulillah Porsipnu tahun ini berlangsung cukup meriah dan disambut antusias oleh berbagai pihak. Porsipnu sendiri diikuti oleh enam sekolah yang ada di kecamatan Sudimoro. Empat sekolah dari tingkat SLTP dan dua sekolah tingkat SMA," katanya, Ahad malam (5/3).

Dia merasa bangga kepada para peserta lomba yang telah menyuguhkan penampilan terbaiknya. Melalui Porsipnu ini diharap muncul banyak kader NU yang unggul dalam sejumlah bidang olahraga dan seni keagamaan.

Minggu, 04 Maret 2018

Kader NU Harus Aktif Sebar Konten Positif

Cilegon, NU Online
Penyebaran informasi pada saat ini bukanlah sebuah hal yang istimewa. Hal itu lantaran siapa pun dapat menjadi jurnalis medsos yang dapat memberikan informasi apa pun dengan format gambar, suara atau video tanpa kredibilitas yang jelas dan terang.

Hal tersebut disampaikan Abdul Malik Mughni dari LTN PBNU pada Pelatihan Siber Kebangsaan di Aula Mapolres Kota Cilegon, Banten, Sabtu (3/3).

Disebutkan Malik, pada era 3.0 ini informasi yang paling 'bising' dan 'massif'-lah yang menjadi pemenangnya.

"Siapa yang menguasai opini publik maka dialah pemenangnya," ujarnya.

Pelatihan Siber Kebangsaan diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Kota Cilegon di Aula Mapolres Kota Cilegon, Jawa Barat, berlangsung 2-3 Maret 2018.

Kegiatan Lintas Alam Sebagai Media Pendidikan Untuk Mengembangkan Kepribadian Kader NU IPNU-IPPNU Anak Cabang Ngadirojo Pacitan


Ngadirojo, NU Online
Kegiatan Lintas Alam dalam rangka memperingati Harlah IPNU-IPPNU ke 64 bagi para peserta merupakan suatu kegiatan di alam terbuka yang menarik, menyenangkan dan menatang yang dapat mengembangkan kecintaan mereka kepada alam dan menambah wawasan tentang lingkungan.

Bagi para peserta kegiatan Lintas Alam, Lintas Alam dapat difungsikan sebagai media pendidikan untuk mengembangkan kepribadian serta watak peserta. 

Dalam suatu penjelajahan/lintas alam pada umumnya ada " Survival training " yang penuh dengan halang  rintang, untuk memberikan pengalaman  bagaimana merasakan suatu keberhasilan melintasi halang rintang yang menantang tersebut.  


Hal tersebut disampaikan Mawan Hardianto dari Pimpinan Cabang IPNU Pacitan pada Kegiatan Lintas Alam di sekitar Gunung Tenong Ds.Pagerjo Ngadirojo, Minggu (04/03/2018)

" IPNU-IPPNU itu jaringannya luas" ujarnya

Sabtu, 03 Maret 2018

Perjuangan KH Wahid Hasyim Lewat Karcis Cap ‘Ceker Ayam’

Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” (Guruku Orang-orang dari Pesantren, LKiS, 2001)

Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Ahmad Wahid Hasyim (1914-1953) ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Al-Harbu Khid’ah diungkapkan oleh Kiai Wahid karena bangsa Indonesia saat itu dalam kondisi peperangan melawan penjajah. Kondisi ini diperhatikan betul oleh para kiai pesantren untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kungkungan kolonialisme, bukan tipu muslihat dalam artian negatif.

Dalam obrolan ringan ditemani seduhan teh hangat di tengah panasnya peperangan, Kiai Wahid Hasyim mengeluarkan sebuah tas dan memberikan isinya kepada Kiai Zuhri. Awalnya Kiai Saifuddin Zuhri terheran dengan sesuatu yang dibungkus oleh plastik tersebut dan diberikan kepadanya.

Tiga Golongan Pengurus Organisasi dalam Al-Qur'an

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud membagi pengurus organisasi ke dalam tiga golongan. Hal itu ia sampaikan berdasar Al-Qur’an surat Fathir ayat 32.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih. Sebagian dari mereka, lalim terhadap dirinya sendiri. Sebagian lain berada dalam posisi pertengahan. Sementara itu, di antara mereka, ada pula yang berlomba dalam menjalankan kebaikan dengan izin Allah swt. Hal itu adalah anugerah yang sangat besar.(QS Fathir: 32).

Pertama, golongan yang dzalimun linafsihi, lalim terhadap diri sendiri. Orang-orang kelompok ini hanya ingin masuk organisasinya saja, tetapi mereka tidak aktif menjalankan organsisasinya.

Jumat, 02 Maret 2018

Ini Harapan Ketua IPPNU Jombang di Harlah Ke-63


Jombang, NU Online

Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kini sudah memasuki usia 63 tahun sejak didirikannya pada 2 Maret 1955 silam. Banyak harapan yang hendak dicapai oleh IPPNU diusia yang sudah matang ini. 


Diantara harapan datang dari Ketua IPPNU Jombang, Jawa Timur, Rahmatul Ainiyah yang menginginkan para aktivis IPPNU terus bersemangat untuk menumbuhkan komitmen menjaga serta mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 


Menurutnya, kesemangatan ini harus terus dimunculkan oleh IPPNU lantaran berbagai macam upaya gencar dilakukan oleh beberapa kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk meruntuhkan NKRI.


"Tetap eksis dan tambah jaya, istiqomah dalam menjaga komitmen untuk selalu menjadi organisasi yang bermanfaat bagi Agama, Bangsa, Negara. Dan tentu menjadikan pelajar putri yang siap mengawal NKRI," katanya, Jumat (2/3).

Efek Sosial Hoaks Menurut Al-Imam Al-Mawardi


Hoaks atau kabar yang tidak sesuai dengan realitas menjadi tantangan besar dalam era media sosial kini. Hoaks sejauh ini sudah menciptakan suasana yang tidak nyaman. Bahkan pada titik tertentu hoaks melahirkan bibit kecurigaan sesama anak bangsa bahkan sesama umat Islam. Berita bohong berkali-kali disebarkan untuk mendelegitimasi figur, pemerintah, lembaga, organisasi, bahkan institusi formal bernama negara.

Penyebar hoaks yang melakukan aksinya berkali-kali secara tidak bertanggung jawab di media sosial untuk menciptakan kaos, kondisi kacau-balau, mendapat teguran tegas dari Allah SWT sebagai Surat Ali Imran ayat 61 berikut ini:


ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ


Artinya, “Mari kita ber-mubahalah agar laknat Allah jatuh menimpa mereka yang berdusta.”

Kamis, 01 Maret 2018

Sekjen PBNU Dorong Pelajar NU Tingkatkan Kreativitas dan Inovasi

Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) HA. Helmy Faishal Zaini mengingatkan rekan-rekan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) agar meningkatkan kreativitas dan inovasi di era yang serba digital ini.

“Pintar saja tidak cukup. Tapi butuh inovasi dan kreativitas,” kata Helmy saat memberikan arahan pada tasyakur Harlah ke-64 IPNU di aula gedung Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Kamis (1/3).

Dalam testimoni singkatnya, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) IPNU 2012-2015 Khaerul Anam Harisah mengutip dawuh Rais Aam PBNU 1992-1999 KH Ilyas Ruchiyat.

“Tugas IPNU itu mencari kayu yang terbaik, lalu kemudian tugas NU mengolahnya menjadi furniture yang berharga,” katanya di aula gedung Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Kamis (1/3).

Helmy Faishal: IPNU Harus Tingkatkan Dakwah di Media Sosial

Jakarta, NU Online
Pelajar Nahdliyin harus lebih bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kapas aturannya guna menghadapi persaingan yang semakin ketat di dalam konteks  kehidupan nyata.

Hal itu disampaikan langsung oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini saat menghadiri tasyakuran Harlah ke-64 IPNU di Graha Gus Dur PP GP Ansor, Jakarta, Kamis (1/3).

Kepada kader-kader IPNU yang hadir malam itu, Sekjen menekankan bahwa IPNU sebagai tunas-tunas dan kader Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis serta ikut menentukan bagaimana masa depan NU di masa yang akan datang. Maka dari itu berbagai upaya penggemblengan dan peningkatan kapasitas dan loyalitas kader harus selalu ditingkatkan.

Dibantu NU Care, Faysal Jalani Operasi Penutupan Kolostomi

Jakarta, NU Online
Faysal Kayana, bocah tiga tahun, warga Dusun Sukamanah, RT.02/03 Kecamatan Wado, Kabupaten  Sumedang, Jawa Barat kini tampak ceria.

Bocah penderita hirschsprung's disease atau penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat lemahnya pergerakan usus, berhasil menjalani operasi kedua, Rabu (28/2) di Rumah Sakit Advent, Cihampelas, Bandung, Jawa Barat.

Faysal berada di rumah sakit sejak Ahad (25/2) untuk persiapan operasi. Walaupun akan menjalani oprasi, Faysal tetap tampak ceria. Sesekali ia berguling-guling dan loncat-loncat di kasur. Ditemani beberapa buah mainan mobil kesukaannya, Faysal terlihat riang.

Faysal harus menjalani serangkaian pemeriksaan oleh dokter. Sebelum dioperasi, Faysal harus menjalani wash out atau pembersihan pada bagian usus dan anus.
 
Operasi kedua ini adalah operasi pulltrongh, yakni penutupan colostomy. Proses operasi ini untuk memasukan usus yang selama ini menggunakan kantong untuk disambungkan ke anus. Operasi berlangsung selama lebih dari empat jam, dimulai pukul 11.00 hingga 15.28 WIB.

Rabu, 28 Februari 2018

Saya Tidak Pernah Kapok Jadi Banser

Grobogan, NU Online 
Rambut dan jenggotnya memutih, penanda umurnya menua. Namun, sama sekali tidak mengurangi semangatnya untuk turut serta bersama anggota lainnya untuk mengamankan Pengajian Akbar Harlah ke-92 NU dan Hari Jadi ke-292 Kabupaten Grobogan di alun-alun Kabupaten, Rabu malam (28/2). 

Dialah Mbah Darsono. Ia merupakan satu dari lima orang anggota Banser yang mengalami kecelakaan di Tol Tembalang sebulan lalu (21/1). Terlihat jelas bekas jahitan di pelipisnya karena peristiwa itu.

Waktu itu, ia bersama rombongan tengah dalam perjalanan pulang menuju Grobogan setelah selama tiga hari mengikuti Pendidikan Kader Lanjut Banser di Bergas, Ungaran. Nahas, mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan hingga menewaskan satu temannya, Miftakul Huda (48). Ia sendiri mengalami luka cukup serius, 17 jahitan.

MCA Ditangkap, PBNU Dukung Polisi Tindak Tegas Penyebar Berita Bohong

Bandung, NU Online 
Polisi menangkap anggota Muslim Cyber Army (MCA) yang diduga menyebarkan berita bohong (hoaks) tentang penganiayaan ulama, kebangkitan PKI, mendiskreditkan partai tertentu, isu yang bermuatan fitnah terhadap pejabat. Mereka melanggar pasal 28 ayat 2 dan UU ITE.

Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, dalam wawancara dengan sebuah televisi, Rabu, (28/2) meminta polisi bertindak tegas terhadap siapa pun yang menyebarkan berita bohong.

“Jangan melakukan hal itu. Jangan menggunakan nama muslim, dan yang terpenting jangan menyebarkan hoax,” tegasnya. 

Ketua Umum MUI Pusat itu meminta agar semua pihak menjaga dan mengawal keutuhan bangsa Indonesia dengan menghindari membuat dan menyebarkan berita bohong.

Marak Hoaks MCA, Masyarakat Didorong Cerdas Kelola Informasi di Medsos

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pagar Nusa M Nabil Haroen mengimbau kepada warga NU khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya yang aktif memakai media sosial agar bijak dalam menggunakannya. 

"Kita harus cerdas dalam mengelola informasi dari media sosial," kata pria yang karib disapa Gus Nabil di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (28/2)

Ia mencontohkan, pada saat seseorang menerima informasi dari media sosial, maka harus ditelaah dulu melalui pendekatan logika. 

"Ini informasi logis apa tidak, bener apa tidak karena kita punya patron kan," kata pria alumnus Pesantren Lirboyo Kediri itu.