Catatan :
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren Miftahul Huda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren Miftahul Huda. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 September 2018

Makesta PAC IPNU IPPNU Ngadirojo Pacitan Bertekad Lahirkan Kader Aswaja


Ngadirojo-Pacitan, mh Online
Kurang lebih 40 pelajar di Kecamatan Ngadirojo Pacitan Jawa Timur dibidik menjadi kader IPNU-IPPNU yang berkarakter Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.

Kegiatan yang bersifat kaderisasi di organisasi NU tingkat pelajar, siswa siswi yang dibidik melalui kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Minggu, 29-30 September 2018 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan, kegiatan ini diketua panitiai oleh Abu Yazid Al-Basthomi.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan (Agus Zaki Alwan) menyambut baik dengan kegiatan Makesta kali ini dapat dilaksanakan di Pondoknya.

Kamis, 29 Maret 2018

Istighosah dan Doa Bersama SMP/SMK Miftahul Huda Menuju Suksesnya UNBK 2018


Ngadirojo, MH Online
Jelang pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2018 para pelajar Kelas IX/XII SMP/SMK Miftahul Huda menggelar Istighosah dan Doa Bersama di halaman Miftahul Huda Jln. Cucak Rowo No.25 Wiyoro Ngadirojo Kamis 29 Maret 2018. Hal itu dilakukan agar siswa siswi mendapat kemudahan dalam melaksanakan UNBK 2018 .(29/03/2018)

Acara Istighosah dan Doa Bersama dipimpin oleh Gus Zaki Alwan diikuti Kepala Sekolah SMP/SMK Miftahul Huda, dewan guru dan siswa-siswi serta orang tuanya.

Segala persiapan mulai dari jasmani maupun rohani dari siswa-siswi seperti Istighosah dan Doa Bersama  serta yang paling Tradisi di Miftahul Huda adalah berkunjung/silaturahmi ke kediaman Guru Guru dan Ulama untuk minta doa dan restu kepada beliau.

Doa merupakan wujud permohonan kepada Allah SWT untuk meminta bantuan dan perlindungan, sebab manusia diciptakan oleh-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Inilah alasan kenapa kita mengajak seluruh siswa-siswi untuk berdoa, tidak lain demi kemudahan dan kelancaran menghadapi semua ujian baik itu ujian sekolah maupun ujian nasional

Minggu, 11 Maret 2018

Mayoran, Sebuah Tradisi Makan Bareng Ala Santri Miftahul Huda Lorok


https://miftahulhudapacitan.blogspot.co.id
Tradisi makan bareng di pondok pesantren memiliki nama yang berbeda tergantung daerah mana pondok itu berasal, ada yang menyebut makan bareng di pesantren dengan sebutan ‘kentongan’, hal ini dikarenakan saat makanan sudah matang si tukang masak memberi tahu teman-temanya dengan memukul kentong agar mereka segera berkumpul. Ada pula yang menyebut makan bareng dengan sebutan lengseran atau mayoran.

Di dunia pondok pesantren khususnya Pondok Miftahul Huda Ngadirojo mayoran adalah tradisi makan bersama yang biasa digelar pada hari-hari libur, hari-hari biasa atau ketika penutupan kegiatan pondok pesantren.

"Madang madang madang madang," yang sering terucap dari santri Naseh Hamid  😁

Pada umumnya mayoran digelar oleh sekawanan santri yang tinggal di kamar/asrama yang sama. Mereka bermusyawarah untuk menentukan menu, besaran uang iuran dan tugas yang dilakukan oleh masing-masing personel. Dimulai dari belanja bahan makanan yang akan dimasak, mencari kayu bakar dan tentu saja tugas memasak.

Sabtu, 10 Maret 2018

Latian Rutin PSNU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan


Latian Rutin PSNU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan
Ngadirojo-Pacitan, NU Online
Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Pimpinan Anak Cabang Ngadirojo kembali lagi melakukan kegiatan rutin yaitu latian pencak silat, latian yang berlangsung pukul 20.00 WIB - selesai malam ahad di Lapangan Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo (10/03/18).

Sugiarto selaku pelatih mengatakan, malam ahad dipilih sebagai waktu pelatihan karena pada malam itu merupakan malam yang cocok untuk para santri dari pondok maupun dari luar pondok. “Jadi tidak cukup menggangu kegiatan santri-santri yang selain punya kegiatan mengaji dan kegiatan-kegiatan lain di pondok, serta tanggungan dari sekolah, yang ikut latian pencak silat ini ada yang masih SMP dan ada juga yang sudah SMA” ujarnya.

Guru adalah tali penghubung antara manusia yang kosong, dengan ilmu adanya guru akan membuat ilmu yang tidak akan pernah putus apabila terus diamalkan dan disampaikan kepada orang lain. Berpegang teguh atas kata tersebut Pagar Nusa sebelum memulai melakukan latian diwajibkan untuk selalu membaca tawasul kepada guru-guru yang telah menjembatani ilmu kepada para pesilat serta dilanjutkan ikhrar prasetya Pagar Nusa, materi jurus serta fisik.

Ketua Pagar Nusa Pacitan, Arif Susilo pernah menyampaikan di acara festifal Pagar Nusa ke-2 di Pondok  Pesantren Al-Fatah Kikil Arjosari, pencak silat adalah seni bela diri tradisional asli Indonesia.

“Pencak silat Pagar Nusa mengandung nilai seni, olahraga dan juga spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.

Rabu, 07 Maret 2018

Eyang Yahuda Lorok Pacitan, Siapakah Beliau?

Ngadirojo-Pacitan, NU Online
Pacitan memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Berdirinya Pacitan yang kini menginjak usia 273 tahun tidak dapat lepas dari tokoh-tokoh penting sebagai peletak dasar peradaban di Pacitan.

Selain dikenal kaya akan sejarah budayanya, Pacitan dikenal pula dengan warisan religiusnya. Salah satu peninggalan religiusnya adalah adanya makam orang-orang terpilih, seperti Kanjeng Jimat, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Petung, hingga Eyang Yahuda.

Banyak makam orang-orang terpilih yang telah berjasa bagi keberlangsungan peradaban Pacitan, namun kurang dikenal atau bahkan tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada yang memelihara atau menziarahinya.

Untung saja, di Pacitan masih banyak masyarakat yang sadar akan peninggalan leluhurnya. Hingga mereka terus menjaga dan merawatnya, salah satu makam tokoh Pacitan yang masih terjaga dengan baik adalah makam Eyang Yahuda, seorang ulama penyebar Islam di Pacitan.

Eyang Yahuda, para ulama menyebutnya dengan nama Syech Abdurrahman. Belum diketahui pasti, beliau berasal dari daerah mana. Namun yang jelas, beliau memilih daerah Lorok sebagai tempatnya berdakwah menyebarkan agama Islam. Hingga dikenal dengan sebutan Eyang Yahuda Lorok.

Selasa, 06 Maret 2018

Cadar, Syariat Islam atau Budaya Arab? Ini Penjelasan Kiai Ishom

Jakarta, NU Online
Polemik pemakaian cadar oleh mahasiswi di perguruan tinggi kembali mencuat setelah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta berupaya melakukan pembinaan kepada para mahasiswi bercadar.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi menandatangani Surat Edaran Nomor B-1301/Un.02/R/AK.00.3/02/2018 perihal Pembinaan Mahasiswi Bercadar.

Surat edaran itu ditujukan kepada Dekan Fakultas, Direktur Pascasarjana, dan Kepala Unit atau Lembaga pada 20 Februari 2018.

Mereka diminta untuk mendata dan membina mahasiswi bercadar dan data diberikan kepada Wakil Rektor III paling lambat 28 Februari 2018.

Namun, mengenai cadar itu sendiri, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin mengatakan, cadar bukan tradisi umat Islam Indonesia.

Kiai muda kelahiran Lampung ini tidak memungkiri, cadar termasuk persoalan fiqih dan penafsiran yang di dalamnya para ulama bisa berbeda pendapat.

Senin, 05 Maret 2018

Menikah Sarana Membentengi Diri

Lumajang, NU Online
Dalam setiap acara akad nikah, calon mempelai pria menyampaikan kata qabiltu sebagai tanda setuju dan menerima atas permintaan mahar dari calon istri. Hal tersebut terlihat ringan dan sederhana, namun memiliki bobot yang demikian berat dan agung. 

“Karena di balik kata qabiltu atau kalimat saya terima nikah dan seterusnya ada hal yang sangat agung yakni tanggung jawab,” kata KH Hasyim, Ahad (4/3). Penekanan tersebut disampaikan saat memberikan mauidhah nikah salah seorang warga di Desa Krai, Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. 

Terkait tanggung jawab, Kiai Hasyim mengingatkan sebuah Hadits yang menandaskan agar setiap suami untuk berbuat baik kepada istrinya. “Sebab, mereka itu bagaikan tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista,” katanya di hadapan hadirin.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengemukakan bahwa perintah nikah sebagai syariat Allah. “Siapa yang mampu tapi ternyata tidak segera menikah, maka tidak diakui sebagai umat Nabi,” jelasnya.

Minggu, 04 Maret 2018

Kegiatan Lintas Alam Sebagai Media Pendidikan Untuk Mengembangkan Kepribadian Kader NU IPNU-IPPNU Anak Cabang Ngadirojo Pacitan


Ngadirojo, NU Online
Kegiatan Lintas Alam dalam rangka memperingati Harlah IPNU-IPPNU ke 64 bagi para peserta merupakan suatu kegiatan di alam terbuka yang menarik, menyenangkan dan menatang yang dapat mengembangkan kecintaan mereka kepada alam dan menambah wawasan tentang lingkungan.

Bagi para peserta kegiatan Lintas Alam, Lintas Alam dapat difungsikan sebagai media pendidikan untuk mengembangkan kepribadian serta watak peserta. 

Dalam suatu penjelajahan/lintas alam pada umumnya ada " Survival training " yang penuh dengan halang  rintang, untuk memberikan pengalaman  bagaimana merasakan suatu keberhasilan melintasi halang rintang yang menantang tersebut.  


Hal tersebut disampaikan Mawan Hardianto dari Pimpinan Cabang IPNU Pacitan pada Kegiatan Lintas Alam di sekitar Gunung Tenong Ds.Pagerjo Ngadirojo, Minggu (04/03/2018)

" IPNU-IPPNU itu jaringannya luas" ujarnya

Sabtu, 03 Maret 2018

Perjuangan KH Wahid Hasyim Lewat Karcis Cap ‘Ceker Ayam’

Ente jangan lupa, Nabi kita Muhammad SAW pernah mengatakan, Al-Harbu Khid’ah, bahwa peperangan selamanya penuh dengan tipu muslihat.” (Guruku Orang-orang dari Pesantren, LKiS, 2001)

Pernyataan tersebut dikatakan oleh KH Ahmad Wahid Hasyim (1914-1953) ketika membincang strategi perjuangan menghadapi penjajah Nippon atau Jepang dengan Konsul Nahdlatul Ulama wilayah Kedu, KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1943.

Al-Harbu Khid’ah diungkapkan oleh Kiai Wahid karena bangsa Indonesia saat itu dalam kondisi peperangan melawan penjajah. Kondisi ini diperhatikan betul oleh para kiai pesantren untuk membebaskan rakyat Indonesia dari kungkungan kolonialisme, bukan tipu muslihat dalam artian negatif.

Dalam obrolan ringan ditemani seduhan teh hangat di tengah panasnya peperangan, Kiai Wahid Hasyim mengeluarkan sebuah tas dan memberikan isinya kepada Kiai Zuhri. Awalnya Kiai Saifuddin Zuhri terheran dengan sesuatu yang dibungkus oleh plastik tersebut dan diberikan kepadanya.

Tiga Golongan Pengurus Organisasi dalam Al-Qur'an

Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud membagi pengurus organisasi ke dalam tiga golongan. Hal itu ia sampaikan berdasar Al-Qur’an surat Fathir ayat 32.

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih. Sebagian dari mereka, lalim terhadap dirinya sendiri. Sebagian lain berada dalam posisi pertengahan. Sementara itu, di antara mereka, ada pula yang berlomba dalam menjalankan kebaikan dengan izin Allah swt. Hal itu adalah anugerah yang sangat besar.(QS Fathir: 32).

Pertama, golongan yang dzalimun linafsihi, lalim terhadap diri sendiri. Orang-orang kelompok ini hanya ingin masuk organisasinya saja, tetapi mereka tidak aktif menjalankan organsisasinya.

Jumat, 02 Maret 2018

Ini Harapan Ketua IPPNU Jombang di Harlah Ke-63


Jombang, NU Online

Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) kini sudah memasuki usia 63 tahun sejak didirikannya pada 2 Maret 1955 silam. Banyak harapan yang hendak dicapai oleh IPPNU diusia yang sudah matang ini. 


Diantara harapan datang dari Ketua IPPNU Jombang, Jawa Timur, Rahmatul Ainiyah yang menginginkan para aktivis IPPNU terus bersemangat untuk menumbuhkan komitmen menjaga serta mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 


Menurutnya, kesemangatan ini harus terus dimunculkan oleh IPPNU lantaran berbagai macam upaya gencar dilakukan oleh beberapa kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk meruntuhkan NKRI.


"Tetap eksis dan tambah jaya, istiqomah dalam menjaga komitmen untuk selalu menjadi organisasi yang bermanfaat bagi Agama, Bangsa, Negara. Dan tentu menjadikan pelajar putri yang siap mengawal NKRI," katanya, Jumat (2/3).

Efek Sosial Hoaks Menurut Al-Imam Al-Mawardi


Hoaks atau kabar yang tidak sesuai dengan realitas menjadi tantangan besar dalam era media sosial kini. Hoaks sejauh ini sudah menciptakan suasana yang tidak nyaman. Bahkan pada titik tertentu hoaks melahirkan bibit kecurigaan sesama anak bangsa bahkan sesama umat Islam. Berita bohong berkali-kali disebarkan untuk mendelegitimasi figur, pemerintah, lembaga, organisasi, bahkan institusi formal bernama negara.

Penyebar hoaks yang melakukan aksinya berkali-kali secara tidak bertanggung jawab di media sosial untuk menciptakan kaos, kondisi kacau-balau, mendapat teguran tegas dari Allah SWT sebagai Surat Ali Imran ayat 61 berikut ini:


ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ


Artinya, “Mari kita ber-mubahalah agar laknat Allah jatuh menimpa mereka yang berdusta.”

Senin, 26 Februari 2018

Keutamaan 'Shahih al-Bukhari' dan 'Shahih Muslim'

Para pengaji hadits tentu tidak luput dari dua nama ini: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Keduanya merupakan penyusun kitab hadits yang sering dirujuk, karena hadits-hadits yang dimuat oleh keduanya dipandang sebagai sumber mumpuni.

Ulama hadits pada masa Imam al-Bukhari (wafat 256 H) dan Imam Muslim (wafat 261 H) maupun setelahnya bersepakat bahwa kumpulan hadits yang dimuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, yang jamak disebut Shahihain, adalah kitab yang lebih utama dibanding kitab hadits lain. Dua kitab ini dinilai sebagai kitab hadits yang menetapkan syarat-syarat kesahihan hadits yang ketat.

Syarat kesahihan riwayat hadits adalah ketersambungan sanad antarperawinya, lalu para perawinya adalah pribadi yang saleh dan terjaga kepribadiannya (‘adalah) lagi kuat hafalannya (dlabth). Selain itu pada matan-nya (redaksi hadits) tidak terdapat kejanggalan (syadz) dan cela (‘illat).

Sabtu, 24 Februari 2018

Haul Akbar di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan



Ngadirojo-Pacitan - Puncak acara Haul ke-2 K.Agus Huda Erfan (K.Miftahul Huda) di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo-Pacitan di hadiri para Kyai Kyai Pacitan,warga sekitar,dan alumni serta santri santri,(Sabtu malam, 24/02/2018)


Tidak hanya haul dari K.Agus Huda Erfan saja, disini ada haul dari H. Imam Bajuri ke-20, Nyai Hj. Tsuwaibah ke-2 dan seluruh santri santriwati yang sudah meninggal.

Adapun rangkain acaranya :

Sejarah Lengkap Kelahiran Berdirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Nahdlatul Ulama' disingkat dengan NU memiliki arti kebangkitan ulama'. Sebuah organisasi yang didirikan oleh para ulama' pada tanggal 31 Januari 1926 Masehi atau 16 Rajab 1344 Hijriyah di Kota Surabaya.

Latar belakang berdirinya Nahdlatul Ulama' memang sangat berkaitan erat dengan perkembangan pemikiran keagamaan dan politik dunia Islam waktu itu. Di tahun 1924, Syarif Husein yaitu seorang Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukkan oleh Abdul Aziz bin Saud yang bermadzhab Wahabi.

Pasca peristiwa itu, tersebarlah berita penguasa baru yang akan melarang semua bentuk amaliah keagamaan ala kaum Sunni yang pada saat itu memang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun di Tanah Arab, dan akan menggantinya dengan model Wahabi. Pengalaman agama sistem bermadzhab, ziarah kubur, tawasul, maulid nabi dan sebagainya secepatnya akan segera dilarang.