Catatan :

Kamis, 08 Maret 2018

PBNU Larang Atribut NU untuk Kepentingan Politik


https://miftahulhudapacitan.blogspot.co.id/

Jakarta, NU Online 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) baru saja menggelar rapat gabungan syuriyah dan harian tanfidziyah di lantai delapan, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (6/3). Rapat yang diselenggarakan dari siang sampai malam hari tersebut menghasilkan beberapa poin di antaranya menegaskan tentang posisi NU dalam politik praktis. 

Menurut Ketua PBNU Bidang Hukum H Robikin Emhas, hasil dari rapat tersebut, seluruh jajaran struktural dari PBNU hingga anak ranting, termasuk lembaga dan Badan Otonom (Banom) harus tunduk kepada khittah NU 1926, yaitu NU sebagai jam’iyah tidak berpolitik praktis. 

"Semuanya harus tunduk dan patuh pada khittah NU dan aturan yang ada," katanya di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (8/3).

Oleh karena itu, pengurus NU, lembaga dan Banom tidak boleh dukung-mendukung dengan membawa atribut NU dalam setiap hajatan demokrasi, baik Pemilihan Legislatif, Pemilihan Presiden atau Pemilihan Kepala Daerah. 

"Tidak boleh mengatasnamakan organisasi NU, termasuk tidak boleh menggunakan bendera, surat, stempel," tegas alumnus Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang itu.

Nyai Aisyah Hamid Baidlowi, Memajukan Kiprah Perempuan Indonesia

Sekitar usia tiga tahun, Aisyah Hamid Baidlowi mengikutinya orang tuanya pindah ke Jakarta. Namun, karena situasi saat itu belum aman karena pendudukan Nippon atau Jepang, Aisyah diajak ibunya Nyai Hj Sholehah Wahid Hasyim kembali ke Jombang.

Kembali ke Jombang bagi Aisyah bisa kembali merasakan tanah kelahiran sekaligus menempa diri di pesantren. Hingga ayahnya, KH Abdul Wahid Hasyim diangkat menjadi menteri agama pada 1945, Aisyah masih mengikuti pendidikan di Jombang. Ayahnya menjabat menteri agama (shumubu) hingga 5 kali sejak tahun 1945 hingga 1952.

Setelah situasi normal di Jakarta pada 1950, Aisyah sekeluarga diboyong ke Jakarta. Ketika sedang menikmati kehidupan bersama keluarga, Aisyah harus menghadapi situasi tidak mudah ketika ayahnya KH Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di daerah Cimahi pada 1953.

Sebagai putri tertua, sejak saat itu Aisyah memahami dan sadar, dirinya harus dapat berperan sebagai seorang ibu bagi keempat adiknya Salahuddin Wahid, Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Hal itu dilakukan ketika sang ibu dan kakaknya Abdurrahman Wahid pas sibuk kegiatan di luar.

Innalillahi, Nyai Aisyah Hamid Baidlowi Ketum PP Muslimat NU 1995-2000 Wafat

Jakarta, NU Online
Tepat di Hari Perempuan Internasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU periode 1995-2000 Nyai Hj Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim wafat pada Kamis, (8/3) di Rumah Sakit Mayapada Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sekitar pukul 12.50 WIB.

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un Ibu Aisyah Hamid Baidowi meninggal dunia. Semoga beliau husnul khotimah. Alfatihah... Meninggal hari ini pukul 12.50,” terang Nely Wahid, menantu almarhumah, Kamis (8/3) di Jakarta.

Sebelumnya, kepada para pengurus Muslimat NU, Nely Wahid mengutarakan, jika ada kesalahan dari almarhumah, baik yang disengaja maupun tidak agar dimaafkan secara ikhlas.

“Bunda-bunda Muslimat NU, saya mewakili Mama Aisyah mohon keikhlasan maaf apabila Mama ada membuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Semoga Mama Aisyah Hamid Baidlowi binti KH Abdul Wahid Hasyim husnul khotimah,” tutur Nely Wahid.

Jenazah sementara akan disemayamkan di Rumah Duka Jalan Bukit Pratama Raya A.9 Pasar Jumat, Lebak Bulus. Adapun jenazah akan dimakamkan di Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Rabu, 07 Maret 2018

Rektor UIN Malang: Dakwah di Internet Harus Disertai Etika

Jakarta, NU Online
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, H Abdul Haris mengemukakan pentingnya etika dalam berdakwah melalui internet, termasuk media sosial. Menurutnya, etika dakwah melalui digital adalah masalah yang krusial karena banyak mengandung unsur hoaks.

"Itu hampir dalam setiap detik ada (hoaks)," katanya pada acara Diskusi Live Streaming dengan tema "Peta Gerakan Jalan Dakwah di Era Digital" di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (7/3).

Menurut pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur itu, etika di era informasi menjadi sesuatu yang baru dan penting, terlebih bagi pengguna internet.

"Ini penting karena internet yang digunakan orang Indonesia yang mencapai 88,1 juta itu sekian persen mengandung hoaks dan itu terkait dengan etika," jelasnya.

Berdasarkan pengamatannya, alumni Pesantren Tebuireng, Jombang itu menyayangkan karena dakwah yang dilakukan melalui internet justru sebagian besar membuat isu fitnah antarumat Islam sendiri. 

"Korbannya sebagian adalah tokoh-tokoh agama karena agama digunakan untuk kepentingan-kepentingan yang bersifat politis," katanya.

Hoaks Mudah Menyebar, Ini Penjelasan Savic Ali

Syafiq Ali (Kanan)
Jakarta, NU Online
Praktisi Media Muhammad Syafiq Alielha mengatakan saat ini penyebaran hoaks sangat mudah terjadi diantaranya melalui situs berita yang dibuat abal-abal. Portal abal-abal cenderung lebih banyak dibaca dibandingkan media resmi.

“Orang pada dasarnya membaca apa pun tanpa peduli sumbernya dari mana. Portal abal-abal ini kalau ditulis dengan meyakinkan bisa bombastis,” kata Savic Ali, panggilan akrabnya, pada Diskusi Memperkuat Media Mainstream dalam Melakukan Kontranarasi, Rabu (7/3) di Hotel JS Luwansa, Jakarta.

Orang, lanjut Savic, saat membaca informasi tidak peduli narasumbernya siapa. Kalau di hadist tidak peduli perawinya siapa, seperti percaya pada hadist palsu. Hal itu karena peta sosial politik sedang terpolarisasi oleh adanya pertarungan politik. 

“Adanya peta politik tidak mampu membuat orang berpikir lebih jernih,” kata pria yang juga Direktur NU Online.

Beralihnya orang lebih membaca portal abal-abal juga karena kredibiltas media resmi yang menurun. 

“Bisa karena akurasinya yang kurang,” terang Savic. 

Selain itu adanya partisan (pengikut partai politik) menyebabkan pertarungan politik yang tinggi sehingga menyebabkan mereka mengambil posisi.

Pengenalan Gadget Pada Anak Harus Dengan Bijak

Perkembangan teknologi tidak bisa dipungkiri dan dihindari lagi untuk terjadi. Barang-barang yang canggih seperti Smartphone, Ipad, Android, Gadget canggih dan yang lainnya mungkin sudah tidak asing lagi diperbincangan pada masa sekarang, berbagai kalangan masyarakat kini sudah sangat mengenal benda-benda gadget yang dengan mudah didapatkan dimana-mana. Globalisasi ini menimbulkan berbagai dampak terutama bagi generasi muda zaman sekarang. Pada awalnya, globalisasi hanya dirasakan di kota-kota besar di Indonesia. Namun dengan adanya kemajuan teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi globalisasi juga telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air. 

Barang-barang gadget yang terus berkembangan dan mengeluarkan penemuan-penemuan baru semacam handphone sangat berpengaruh pada masyarakat yang terbuka akan globalisasi. Ada dampak positif dan negatif dalam globalisasi yang sedang marak di Indonesia. dampak positifnya adalah kemajuan di bidang teknologi, komunikasi, informasi, dan transportasi yang memudahkan kehidupan manusia. Ada pun dampak negatifnya adalah adanya sikap sekularisme yang lebih mementingkan kehidupan duniawi dan mengabaikan nilai-nilai agama.

Eyang Yahuda Lorok Pacitan, Siapakah Beliau?

Ngadirojo-Pacitan, NU Online
Pacitan memiliki cerita sejarah yang cukup panjang. Berdirinya Pacitan yang kini menginjak usia 273 tahun tidak dapat lepas dari tokoh-tokoh penting sebagai peletak dasar peradaban di Pacitan.

Selain dikenal kaya akan sejarah budayanya, Pacitan dikenal pula dengan warisan religiusnya. Salah satu peninggalan religiusnya adalah adanya makam orang-orang terpilih, seperti Kanjeng Jimat, Ki Ageng Posong, Ki Ageng Petung, hingga Eyang Yahuda.

Banyak makam orang-orang terpilih yang telah berjasa bagi keberlangsungan peradaban Pacitan, namun kurang dikenal atau bahkan tidak diketahui keberadaannya sehingga tidak ada yang memelihara atau menziarahinya.

Untung saja, di Pacitan masih banyak masyarakat yang sadar akan peninggalan leluhurnya. Hingga mereka terus menjaga dan merawatnya, salah satu makam tokoh Pacitan yang masih terjaga dengan baik adalah makam Eyang Yahuda, seorang ulama penyebar Islam di Pacitan.

Eyang Yahuda, para ulama menyebutnya dengan nama Syech Abdurrahman. Belum diketahui pasti, beliau berasal dari daerah mana. Namun yang jelas, beliau memilih daerah Lorok sebagai tempatnya berdakwah menyebarkan agama Islam. Hingga dikenal dengan sebutan Eyang Yahuda Lorok.