Catatan :

Rabu, 14 Maret 2018

Mari Hujani Medsos dengan Kejernihan Cinta

miftahulhudapacitan.blogspot.com
Hadhramaut, NU Online
Lembaga Media Informasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Yaman mengadakan diskusi yang bertajuk Tadarus Cinta pada Jumat (9/3) sore di halaman asrama mahasiswa Universitas Al Ahgaff, Hadhramaut, Yaman. 

Ketua PCINU Yaman Ahmad Subhan menceritakan singkat kisah Fudhail bin Iyadh. Sufi masyhur itu mulanya merupakan seorang begal. Lalu, ia bertobat hingga menjadi sufi karena pengaruh cinta. 

"Ini membuktikan bagaimana cinta bisa mengubah seseorang dengan sangat luar biasa," ucapnya meyakinkan. 

Dalam pengantarnya sebagai moderator, Azhari Mujahid mengutip definisi cinta dari Rumi. “Cinta bagaikan api yang melalap segala sesuatu selain sang kekasih,” katanya.

Pengurus Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Hadhramaut Munandar Harits mengatakan cinta merupakan emosi yang menuntun pada suatu tindakan. 

“Karya adalah hasilnya,” ujarnya.

Kemenag Dorong Media Islam Tingkatkan Kualitas Konten

miftahulhudapacitan.blogspot.com
Jakarta, NU Online
Kementerian Agama RI melalui Bimbingan Masyartakat Islam (Bimas) berkomitmen mendorong media-media Islam untuk meningkatkan kualitas konten pemberitaan keislaman. Upaya itu dilakukan dengan mmengadakan Pelatihan In-dept Reporting Media Islam di Hotel Lumire, Jakarta, Rabu (14/3) malam.

Peserta pelatihan itu adalah 60 wartawan dan wartawati dari 30 media Islam di antaranya NU Online, dari Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. 

Menurut Kasubag Humas Bimas Islam Sigit Kamseno, para wartawan itu dipertemukan untuk diperkuat kapasitas dalam peliputan mendalam. Mereka akan sharing dengan wartawan senior dari Republika dan Majalah Gatra. 

“Ini komintem kita bermitra dengan media-media Islam dalam meningkatkan narasi,” katanya pada pembukaan kegiatan tersebut. 

Pada pelatihan itu, menurut Sigit, para wartawan tidak hanya sharing teori in-dept reporting, tapi juga langsung praktik.

Selasa, 13 Maret 2018

Sejumlah Karomah Rabi’ah al-Adawiyah

http://miftahulhudapacitan.blogspot.com/
Rabi’ah al-Adawiyah adalah sedikit dari ulama sufi perempuan yang sangat disegani dalam sejarah peradaban Islam. Pemikiran dan laku spiritualnya terus dikaji hingga hari ini. Berbagai macam kisah hidupnya pun sudah banyak dikupas dan ditulis dalam banyak buku. 
Termasuk soal ajaran cinta (mahabbah). Selain Jalaluddin Rumi, Rabi’ah al-Adawiyah adalah seorang sufi yang mengusung mazhab cinta. Cintanya kepada Allah begitu dalam dan kuat. Sehingga ia tidak mampu mencintai yang lainnya karena cintanya hanya untuk Allah. 

Rabi’ah menyembah Allah dengan dasar cinta (hubb), bukan karena takut atau harap (roja’ dan khauf)sebagaimana kebanyakan orang. Karena saking cintanya kepada Allah, Rabi’ah pernah berujar bahwa ia tidak mendambakan surga dan tidak takut kalau dimasukkan neraka.

Rabi’ah dikenal sebagai sebagai hamba yang sangat patuh dan taat kepada Allah. Bahkan, setiap hembusan nafasnya selalu diiringi dengan dzikir kepada Allah. Dalam urusan beribadah kepada Allah, ia adalah orang sangat istiqomah. Ketaatan yang begitu tinggi kepada Allah membuatnya dikenal sebagai waliyullah (wali Allah).

Senin, 12 Maret 2018

LPNU Tarub Luncurkan Kedai Kopi ‘de NUT’

Tegal, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) tengah fokus menggerakkan kemandirian ekonomi warga Nahdliyin. Dalam rangka mewujudkan hal itu, Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Tarub, Tegal, Jawa Tengah meluncurkan kedai kopi yang dinamai ‘de NUT’, Ahad (11/3).

‘De NUT’ merupakan akronim dari divisi ekonomi Nahdlatul Ulama Tarub. “Kedai kopi dilipih karena tren pangsa pasarnya menarik,” ucap H Agung, ketua LPNU Tarub.

Pemilihan tanggal 11 Maret sebagai hari peluncuran bukan tanpa alasan. Hal tersebut mengingatkan pada Semar. “Harapannya sesuai tokoh Semar yang bijaksana. Dari ngopi-ngopi itu tercipta pemikiran-pemikiran yang bijaksana seperti kaul ulama-ulama terdahulu tentang khasiat kopi,” kata Syamsul Azhar, Ketua MWCNU Tarub.

Bupati Tegal Enthus Susmono pun memberikan kenang-kenangan berupa wayang Semar yang diletakkan di dinding kedai. Dalam sambutannya, ia mengutip nasehat bijak tentang tokoh punakawan wayang itu.

Minggu, 11 Maret 2018

PCNU Pacitan Rintis Usaha Ritel Nusantara Mart

Warga Pacitan, khususnya kalangan Nahdatul Ulama (NU) diimbau tidak loyo di tengah himpitan penetrasi pasar dari pelaku usaha luar daerah. Justru dengan masifnya kompetisi usaha diharapkan bisa menjadi motivasi untuk lebih berinovasi. Pernyataan tersebut diungkapkan H. Mahmud, Ketua PCNU Pacitan, Senin (12/3).

"Memang perlu adanya sebuah terobosan untuk bisa memberdayakan dan penguatan ekonomi bagi masyarakat lokal. Karena itu, ormas NU dengan menggandeng semua unsur masyarakat tanpa kecuali tengah merintis sebuah usaha ritel yang diberi nama Nusantara Mart. Ritel ini sebagaimana rencananya akan didirikan di semua kecamatan yang ada di Pacitan. Namun untuk awal rintisan akan dibuka satu ritel di Kecamatan Pacitan," kata Mahmud.

Menurut Mahmud yang juga menjabat sebagai Sekretaris BP2KD ini, agar rintisan itu bisa segera berjalan diperlukan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat. Yaitu dengan kepemilikan saham pada usaha tersebut.

Mayoran, Sebuah Tradisi Makan Bareng Ala Santri Miftahul Huda Lorok


https://miftahulhudapacitan.blogspot.co.id
Tradisi makan bareng di pondok pesantren memiliki nama yang berbeda tergantung daerah mana pondok itu berasal, ada yang menyebut makan bareng di pesantren dengan sebutan ‘kentongan’, hal ini dikarenakan saat makanan sudah matang si tukang masak memberi tahu teman-temanya dengan memukul kentong agar mereka segera berkumpul. Ada pula yang menyebut makan bareng dengan sebutan lengseran atau mayoran.

Di dunia pondok pesantren khususnya Pondok Miftahul Huda Ngadirojo mayoran adalah tradisi makan bersama yang biasa digelar pada hari-hari libur, hari-hari biasa atau ketika penutupan kegiatan pondok pesantren.

"Madang madang madang madang," yang sering terucap dari santri Naseh Hamid  😁

Pada umumnya mayoran digelar oleh sekawanan santri yang tinggal di kamar/asrama yang sama. Mereka bermusyawarah untuk menentukan menu, besaran uang iuran dan tugas yang dilakukan oleh masing-masing personel. Dimulai dari belanja bahan makanan yang akan dimasak, mencari kayu bakar dan tentu saja tugas memasak.

Sabtu, 10 Maret 2018

Latian Rutin PSNU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan


Latian Rutin PSNU Pagar Nusa di Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo Pacitan
Ngadirojo-Pacitan, NU Online
Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Pimpinan Anak Cabang Ngadirojo kembali lagi melakukan kegiatan rutin yaitu latian pencak silat, latian yang berlangsung pukul 20.00 WIB - selesai malam ahad di Lapangan Pondok Pesantren Miftahul Huda Ngadirojo (10/03/18).

Sugiarto selaku pelatih mengatakan, malam ahad dipilih sebagai waktu pelatihan karena pada malam itu merupakan malam yang cocok untuk para santri dari pondok maupun dari luar pondok. “Jadi tidak cukup menggangu kegiatan santri-santri yang selain punya kegiatan mengaji dan kegiatan-kegiatan lain di pondok, serta tanggungan dari sekolah, yang ikut latian pencak silat ini ada yang masih SMP dan ada juga yang sudah SMA” ujarnya.

Guru adalah tali penghubung antara manusia yang kosong, dengan ilmu adanya guru akan membuat ilmu yang tidak akan pernah putus apabila terus diamalkan dan disampaikan kepada orang lain. Berpegang teguh atas kata tersebut Pagar Nusa sebelum memulai melakukan latian diwajibkan untuk selalu membaca tawasul kepada guru-guru yang telah menjembatani ilmu kepada para pesilat serta dilanjutkan ikhrar prasetya Pagar Nusa, materi jurus serta fisik.

Ketua Pagar Nusa Pacitan, Arif Susilo pernah menyampaikan di acara festifal Pagar Nusa ke-2 di Pondok  Pesantren Al-Fatah Kikil Arjosari, pencak silat adalah seni bela diri tradisional asli Indonesia.

“Pencak silat Pagar Nusa mengandung nilai seni, olahraga dan juga spiritual dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tuturnya.